Ulasan Film: ‘The East'

Salah satunya aliran streaming yang berada di Indonesia, Mola TV belakangan ini memberinya akses terbatas ke Cineverse untuk me-review film yang sebenarnya telah lama kita nantikan hadirnya semenjak tahun kemarin.

Film Belanda yang dengan judul ‘The East' atau dalam versus aslinya dengan judul ‘De Oost' ini nanti akan disiarkan secara terbatas di Mola TV dan dapat kami ucapkan film ini akan melipur sekalian memberikan kepuasan dahaga kita akan film bertopik riwayat Indonesia di periode perjuangan menantang penjajahan Belanda. Tetapi ini kali sekarang kita akan menyaksikan sudut pandang dari segi yang berseberangan, dalam masalah ini dari segi penjajahan Belanda tersebut.

Terang ini akan bagus sekali, ditambah sepanjang ini lebih banyak film berdasar belakang riwayat perjuangan Indonesia di zaman perjuangan merampas kemerdekaan, dibikin oleh orang Indonesia dengan artis khusus dari Indonesia tentu saja. Kita sebutlah saja dimulai dari film ‘Darah dan Doa' (1950), dan ‘Enam Djam di Jogja' (1951) yang disutradarai Usmar Ismail, yang ke-2 nya sebagai pion film bertopik perang kemerdekaan.


Lanjut ke zaman 70an saat banyak film bertopik perjuangan, seperti ‘Perawan di Bidang Selatan' (1971), ‘Mereka Kembali' (1972), ‘Bandung Lautan Api' (1974), dan ‘Janur Kuning' (1979). Film paling akhir ini mungkin menempel di pemikiran kita, karena dulu sering kali diputar di salah satunya stasiun TV Indonesia di zaman 80an sampai 90an.

Di zaman 80an sampai 90an masih tetap ada beberapa film sama seperti ‘Pasukan Berani Mati' dan ‘Serangan Fajar' (1982), ‘Nagabonar' (1987) dan ‘Soerabaia 45' (1990). Melalui tahun 2000an kita sempat dikejuti oleh trilogi film ‘Merah Putih', ‘Darah Garuda' dan ‘Hati Merdeka' (2009-2011) yang dibikin dengan ongkos tinggi sekali di jaman itu.

Saat ini pada tahun 2021, kita kehadiran ‘The East', film bertopik perang kemerdekaan, yang meskipun rekanannya jauh dari semua film yang sudah disebut sebelumnya, tetapi watak khusus yang berada di film itu teramat polemis dalam riwayat perjuangan Indonesia.

Baris waktunya sendiri akan membuat kita saat itu juga terlontar pas sesudah Perang Kemerdekaan Indonesia, di periode di antara tahun 1945 sampai 1949, yang disebut beberapa tahun penting sesudah kemerdekaan Indonesia.

Beberapa ratus ribu tentara Belanda dikirimkan ke Indonesia atau ke ‘Timur' untuk kembali menegakkan kolonialisme di Indonesia, sesudah Jepang sukses ditendang dari Indonesia. Tetapi ada seorang yang melakukan tindakan lebih ekstrim dibanding tentara Belanda yang lain untuk kembali tekan golongan teroris yang sejauh ini merongrong penjajahan Belanda.

Seorang itu namanya Raymond Westerling, yang saat itu berpangkat Kapten, dan populer benar-benar berani, sadis, tetapi penuh pamor. Dia memiliki panggilan De Turk, atau Sang Turki, karena dia terlahir di Turki dari orangtua turunan Belanda dan Yunani.

Tetapi kita tidak akan ikuti perjalanan hidup Westerling. Di ‘The East' ini malah kita akan ikuti cerita seorang tentara muda Belanda namanya Johan (Martijn Lakemeijer), yang dikisahkan barusan landing di Indonesia bersama beberapa ratus ribu tentara Belanda yang lain dan dia ditaruh bersama prajurit yang lain di Camp Matjan Liar yang dikisahkan ada di Semarang.

Kegiatan rutin yang Johan lalui setiap hari termasuk sangatlah menjemukan. Dia harus berjaga-jaga di muka basis dengan senapan mesin, berpatroli ke kampung-kampung sekalian cari teroris yang sejauh ini dicari-cari oleh Belanda (dia bicara dalam Bahasa Indonesia yang dia dalami dari buku kantong yang diberi saat dia turun dari kapal-red), dan pada hari liburannya dia berpelesir, minum-minum dan cari wanita bersama beberapa temannya.

Pada sebuah siang, Johan menyaksikan ada seorang masyarakat pribumi yang dianiaya oleh tentara Jepang yang ingin merampas barangnya. Langsung dia mendekati dan ingin bertanya permasalahan orang itu. Tetapi saat sebelum kerusuhan terjadi, hadirlah seorang tentara memiliki badan tegap, mengenakan seragam hijaun gelap, memakai kacamata hitam dengan kumis membentang. Dua pistol terpasang di tubuhnya. Tanpa kebimbangan dia langsung bertanya permasalahannya ke Johan.


Johan lalu menerangkan masalahnya, dan perwira itu secara cepat mengambil langsung pistolnya dan menodongkannya pas dari muka perwira Jepang itu. Perlakuan perwira yang pada akhirnya dijumpai memiliki panggilan De Turk atau Raymond Westerling (Marwan Kenzari) oleh rekan-rekan Johan itu, langsung membekas di pemikirannya sampai beberapa saat di depan.

Beberapa peristiwa di basis Johan membuat De Turk tiba ke basis di mana Johan ada. Dan jalinan mereka mulai dekat keduanya pada tempat itu. Dan De Turk terlihat suka dengan kedatangan Johan yang lalu dibawanya masuk ke pasukan khusus yang dia memimpin.

Johan semula masih buta dengan yang dilaksanakan De Turk, mendapatkan keyakinan langsung dengan turut turut serta di sejumlah operasi kecil dan rahasia dengannya.

Jalinan ini lanjut ke tahapan yang semakin tinggi kembali saat De Turk mendapatkan visi khusus ke Sulawesi Selatan dan memulai membuat pasukan terutamanya dengan training serius.


Johan mendapati begitu sadisnya sistem yang digerakkan De Turk saat dia jalankan visi di Sulawesi Selatan itu. Beberapa ribu masyarakat sipil dihajar dan dipendamkan secara massal. Hati nuraninya terdorong bela rakyat di tempat dan memulai menantang peraturan yang digerakkan tutornya itu.

Tetapi keadaan selanjutnya berbeda cepat, dan memulai tidak memberikan keuntungan dianya. Dia mulai merasakan hidupnya dalam bahaya. Apa yang selanjutnya dilaksanakan Johan supaya bisa keluar dari tempat itu?

‘The East' memang terhitung berani dan frontal memvisualisasikan figur yang memiliki masa lampau gelap untuk rakyat Indonesia. Meskipun film ini tidak secara tepat memvisualisasikan watak Raymond Westerling, ditambah karena ada kumis (aslinya tidak ada-red) dan tidak ada nama Raymond Westerling disampaikan di film ini, cuman nama julukannya saja yang terkata.

Terang film ini bukanlah sebuah biopik yang riil menceritakan Westerling saat hidupnya. ‘The East' cuman mengusung watak ini berdasar figur aslinya. Bukti yang kita mengenal juga terang benar-benar jauh atas sesuatu yang dilukiskan dan dapat disebutkan seutuhnya fiktif semata.


Malah yang memikat ialah kita menyaksikan watak Westerling dari mata Johan yang dimainkan secara baik oleh Martijn Lakemeijer. Bagaimana watak protagonis fiktif ini mempresentasikan prajurit muda Belanda jaman dulu saat dikirimkan ke Hindia Belanda (nama Indonesia waktu itu-red).

Kemauan menjaga punya mereka pasti berseberangan dengan yang sudah Indonesia capai melalui kemerdekaan waktu itu. Dan itu sebagai pekerjaan khusus beberapa ratus ribu prajurit muda yang kurang pengalaman dan usaha jalankan pekerjaannya sebagus mungkin.

Dan film ini tidak cuman jalan searah saja cuman di Indonesia, tetapi ‘The East' jalan dengan jalur mundur-maju. Secara aktif kita akan menyaksikan periode di mana Johan yang sudah kembali lagi ke Belanda, alami saat-saat susah jalani hidup sesudah perang selesai.

Ada kekesalan dalam pada diri Johan, baik ke dirinya, ke keluarganya dan ke periode lalunya yang tidak menyenangkan itu. Hal tersebut nanti akan berpengaruh ke konklusi yang tidak kita sangka sama sekalipun. Menunjukkan sebuah trauma yang sering dirasakan veteran perang saat kembali berdinas dari medan perang.

Marwan Kezwari juga bagus berperanan dalam film ini sebagai Raymond Westerling. Cukup kaget menyaksikan performanya yang tegap, maskulin, tetapi dengan tatapan dingin. Kemungkinan dari kita pernah ingat saat dia berperanan sebagai Jafar dalam film ‘Aladdin' (2019), di mana dia sukses bawa watak antagonis ini seperti mestinya, sama bagusnya sama seperti yang dilukiskan dalam film animasinya sebelumnya.


Langkah pelukisan Raymond Westerling juga sedikit mengingati kita akan salah satunya watak di film perang classic legendaris ‘Apocalypse Now' (1979), saat Kolonel Walter E. Kurtz yang dimainkan oleh Marlon Brando lakukan suatu hal yang di luar logika kita. Bermula dari pertimbangan seorang protagonis, ia lakukan apa yang dia anggap betul, tetapi rupanya salah sama sekalipun. Dan pada akhirannya dia seutuhnya salah jalan di jalan yang dia tentukan.

Untuk visualisasinya dapat disebutkan salah satunya yang terbaik. Dengan prima ‘The East' memvisualisasikan latar situasi lansekap persawahan yang asri, gunung dan rimba lebat dengan bermacam binatang didalamnya. Set dekornya juga teramat detail dengan anggaran yang termasuk rendah untuk ukuran film Eropa, tetapi dengan kualitas yang dapat dipertemukan dengan film Hollywood sekalinya.

Memang film ini akan memunculkan kontroversi di kelompok sejarawan dan kemungkinan buka cedera lama beberapa rakyat Indonesia yang dulu alami kekejaman di periode penjajahan.


Tetapi satu kali lagi, kita sebagai rakyat Indonesia harus menyaksikan film ini sebagai sebuah kreasi seni. Bukan suatu hal yang negatif, tetapi untuk menyadarkan kita jika Belanda juga mengaku kekeliruan mereka di periode lalu pada rakyat kita.

Dan melalui ‘The East' berikut mereka berkontemplasi untuk membikin jalinan ke-2 negara masih tetap baik saja sampai sekarang ini, dan film ini jadi pengingat supaya peristiwa sama tidak lagi terjadi, terutama untuk penerus kita nanti.

Tidak ada komentar untuk "Ulasan Film: ‘The East'"