Ali dan Ratu-ratu Queens Review

Ali dan Ratu-ratu Queens Review
Palari Films sebagai rumah produksi yang populer hasilkan macam film penuh berat, seperti "Posesif" dan "Aruna dan Lidahnya" sekian tahun kemarin. Sempat stop 2-3 tahun dalam melaunching film, pada akhirnya PH satu ini ada dengan Ali dan Ratu-ratu Queens yang tampil secara terbatas di Netflix.

Ali dan Ratu-ratu Queens disutradarai oleh Lucky Kuswandi, yang populer lewat Selamat Pagi, Malam dan re-boot dari Galih dan Ratna. Tempatkan Iqbaal Ramadhan dan jejeran cast wanita senior sebagai aktor intinya, film ini bercerita berkenaan Ali, seorang lelaki asal dari Indonesia yang ke New York untuk cari ibunya. Dalam prosesnya, dia malah berjumpa dengan satu kelompok wanita asal dari Indonesia yang mengajari pengalaman bernilai untuk hidupnya.

Premis yang digotong dalam film terkini Lucky Kuswandi ini dapat disebut enteng, di mana pemirsa akan dibawa dalam journey Ali saat ada di New York. Premis narasi itu termasuk kurang dan telah banyak dilaksanakan oleh beragam film sinetron sama yang sudah di-launching lebih dulu, hingga sangat terasa generic.

Generic-nya premis dari Ali dan Ratu-ratu Queens berikut yang melukai komponen penceritaan didalamnya. Kerangka yang diangkat mencakup Ali dan quest penelusuran ibunya sangat terasa kurang, hingga cukup susah untuk pahami apa yang sebetulnya muncul karena seolah ada banyak info terkubur yang semestinya dapat dikeduk lebih dalam kembali.

Walaupun segi narrative-nya jadi flaw, Lucky Kuswandi usaha untuk menangani ini dengan memberinya Ali dan Ratu-ratu Queens dengan bermacam rasa dalam tiap scene-nya. Berbahagia, tawa, sendu, kebingungan, beragam rasa ada untuk mengunggah hati pemirsa. Namun, ini juga dilaksanakan dengan beberapa film ber-genre sama, hingga membuat tidak begitu unique.

Hal yang membuat Ali dan Ratu-ratu Queens mencolok bukan Iqbaal Ramadhan sebagai Ali, tetapi ini datang dari timbulnya satu kelompok wanita asal dari Indonesia yang mengais rejeki di New York. Nirina Zubir sebagai Tante Party, Bahagia Salma sebagai Tante Chinta, Tika Panggabean sebagai Tante Ance, dan Asri Welas sebagai Tante Biyah sanggup membawa watak mereka dengan menarik, membuat film ini berasa lebih hidup. Dapat disebut, perform dari 4 cast ini melampaui yang lain, terhitung Iqbaal Ramadhan dan Marissa Anita yang semestinya jadi spotlight didalamnya.

Selainnya memprioritaskan rasa, Lucky Kuswandi menyuntikkan bermacam hal menarik yang lain berkaitan faktor tehnis dalam Ali dan Ratu-ratu Queens. Permainan sinematografi yang keren, implementasi visual yang eye-candy penuh kesegaran, sampai set desain New York yang diperlihatkan benar-benar cantik sanggup membuat film sinetron ini enjoyable sampai akhir durasi waktu.

Belum juga dengan permainan di departemen sound-nya yang tidak dilewati demikian saja. Sound design-nya sanggup tampil oke hidupkan beragam beberapa momen memilukan didalamnya.

Kata akhir, Ali dan Ratu-ratu Queens ialah film sinetron yang penuh rasa dengan paket benar-benar fancy. Tetapi, film perlu kerangka untuk membuat lebih terkesan, yang sayang tidak berhasil dilancarkan oleh Lucky Kuswandi dalam filmografi terbaru ini.

Tidak ada komentar untuk "Ali dan Ratu-ratu Queens Review"